Kisah Anak Bangsa Yang Berprestasi

16 07 2010

Penggemar film atau bukan, hampir semua orang mengenali judul film-film box office di atas. Tapi tahukah Anda bahwa salah satu yang ikut “bertanggung jawab” atas kecanggihan special effects film-film tersebut adalah seorang anak muda asli Indonesia?

Andre Surya

Perkenalkan, Andre Surya.
Namanya muncul di kredit film Iron Man, Star Trek, Terminator Salvation, Transformers: Revenge of the Fallen, dan Iron Man 2, sebagai Digital Artist. Dia juga terlibat dalam pengerjaan film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull, Surrogates, dan Transformers: Revenge of the Fallen.

Pria kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1984 ini adalah satu-satunya digital artist asal Indonesia di divisi Industrial Light and Magic (ILM) Lucasfilm Singapore. Lucasfilm sendiri adalah salah satu production company tersukses di dunia, yang didirikan tahun 1971 oleh George Lucas, sutradara Star Wars.

Pria yang kini berdomisili di Singapura ini sekarang sedang sibuk mengerjakan proyek film besar yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat. Tapi ia masih menyempatkan diri untuk berbincang dengan editor Yahoo! Indonesia supaya Anda semua bisa mengenalnya lebih dekat.

Coba ceritakan siapa itu Andre Surya.
Saya lahir di Jakarta, 1 Oktober 1984. Lahir dan dibesarkan di kota ini. Selain hobi main bola, saya juga punya ketertarikan di bidang 3D. Saat ini saya single dan tinggal di Singapore, bekerja di divisi Industrial Light and Magic Singapore di bawah Lucasfilm Singapore.

Belajar 3D dari mana?
Saya dulu kuliah di Untar, ambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Tapi kemudian saya dapat kesempatan untuk kerja di Polaris 3D, sebuah perusahaan advertising and architectural visualization di Jakarta. Setelah itu saya memutuskan untuk terus bekerja dan nggak melanjutkan studi saya di Untar. Jadi saya di Untar cuma satu tahun, terus lanjut ke Kanada untuk ambil diploma di bidang Film and Special Effects di Vanarts, sebuah sekolah film di Vancouver. Tapi sebagian besar pengetahuan dan keterampilan 3D justru saya pelajari sendiri tanpa training dan sekolah. Saya udah mulai mempelajari Computer Graphic sejak kelas 1 SMA. Jadi kalo dihitung, kira-kira 10 tahun yang lalu.

Apa aja prestasi yang udah pernah kamu capai?
Saya beberapa kali memenangkan penghargaan, baik lokal maupun internasional. Contohnya, gambar buatan saya yang berjudul Somewhere in the Sky pernah ditampilkan di CGOVERDRIVE, konferensi Computer Graphic terbesar di Asia. Gambar itu juga memenangkan Excellence Award di buku Elemental 2 terbitan Ballistic Publishing dan Best Artwork Awards di Indocg Showoff Book, sebuah buku kumpulan CG art Indonesia. Lalu gambar saya yang berjudul City of Enhasa juga memenangkan juara satu di Future World Contest di http://www.3dkingdom.org

Jelaskan dong seperti apa pekerjaan seorang digital artist.
Digital artist mengerjakan banyak hal seperti modelling, layout, lighting, dan compositing.
Modelling itu proses pembuatan model itu sendiri, seperti mobil, robot, dan sebagainya. Layout itu proses matching camera CG (computer graphics) dengan background aslinya. Lighting itu proses kreatif agar 3D yang di-produce terlihat menarik dan menyatu dengan background-nya aslinya dalam scope posisi cahaya. Sedangkan compositing itu proses penyatuan semua elemen yang ada.

Di dalam sebuah film, rata-rata ada lebih dari 70 orang digital artist, terutama bila film itu skala besar, seperti Iron Man 2. Saya bekerja dalam tim yang masing-masing punya skill dan role sendiri.

Apa yang membuat kamu tertarik untuk bekerja di bidang ini?
Karena ini hobi saya. Saya suka banget mengerjakan 3D dan saya juga dari dulu memang ingin bekerja di industri film. Buat saya ini adalah pekerjaan impian. Waktu masih kuliah, kadang-kadang saya mengkhayal bagaimana rasanya mengerjakan visual effects untuk sebuah film besar dan melihat nama kita muncul di credit title film itu. Sekarang semuanya udah benar-benar terwujud.  It’s simply a dream come true!

Apa film pertama yang kamu kerjakan?
Proyek feature film pertama saya itu Iron Man. Film ini juga yang saya anggap sebagai batu loncatan. Di situ saya ngerjain bagian lighting saat Iron Man terbang pertama kali.

Bagaimana ceritanya sampai bisa bekerja untuk Lucasfilm?
Ceritanya lumayan panjang sih, dan nggak gampang juga. Sederhananya begini deh. Sejak wawancara pertama sampai akhirnya saya diterima kerja di Lucasfilm itu membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Awalnya saya wawancara di Ottawa, Kanada, lalu wawancara lewat telepon oleh Lucasfilm Singapore, lalu ada wawancara kedua, dan baru setelah itu lah saya dikabari bahwa saya diterima.

Waktu itu memang melamar ke Lucasfilm?
Saya ngelamar di Lucasfilm US sewaktu saya sudah lulus sekolah tapi dikarenakan visa kerja US yang cukup sulit dan mereka membuka studio di Singapore maka saya ditransfer kesana. Ada beberapa orang Indo yang kerja di Lucasfilm Singapore, terutama di bidang IT, games, dan TV series, tapi di bidang Visual effects untuk feature film (ILM), artistnya sekarang ini hanya saya satu-satunya yang orang Indonesia.

Somewhere in the Sky, gambar Andre yang banyak memenangkan penghargaan.

Apa keterampilanmu yang paling dibanggakan?
Saya paling suka lighting, dan and I feel that it’s my best skill.

Dari semua film yang pernah kamu kerjakan, yang mana yang paling berkesan?

Yang paling exciting adalah Transformers: Revenge of the Fallen, soalnya sebagian besar tugas saya di proyek itu adalah mengerjakan lighting.

Apa suka dan duka yang dialami sebagai digital artist?

The best part is, kamu melakukan hal yang paling kamu sukai, dan dibayar untuk itu. Plus, melihat nama kita terpampang di credits sebuah feature film ternama itu benar-benar hal yang tak ternilai. Kekurangannya…, jujur aja saya nggak bisa menemukan apa nggak enaknya jadi digital artist. Jadi jawabannya: there is no worst part of being digital artist for me.

Apa film favorit kamu?
Sampai saat ini sih Avatar masih jadi film favorit saya. Secara teknologi juga film ini yang menurut saya paling oke. Saya ingin suatu hari nanti bisa terlibat dalam proyeknya James Cameron.

Saat ini 3D sedang jadi trend di industri film. Menurut kamu, sampai berapa lama ini akan bertahan?
Saya rasa 3D akan bertahan cukup lama dan masih akan jadi trend hingga 10 tahun ke depan, atau bahkan lebih.

Menurut kamu, mungkinkah filmmaker Indonesia membuat film 3D dengan kualitas baik?
Saya yakin bisa. Saya sendiri kenal beberapa orang Indonesia yang sangat berbakat dan skill mereka juga bertaraf International. Mereka bekerja di perusahaan-perusahaan besar di bidang 3D di luar negeri. Kalau saja mereka semua balik ke Indonesia dan membuka satu perusahaan dengan kualitas standard International, dengan bakat dan skill yang mereka punya, saya rasa sangat memungkinkan bila Indonesia menghasilkan film-film dengan kualitas standard International.

Prestasi Anak Bangsa di Ajang

Olimpiade Kimia ke-35 di Athena

Ditulis olehPondok Kreasi untuk OSIS 36

Logo IChO 35Di tengah gembornya berita mengenai pengesahan RUU Sisdiknas maupun tingginya penarikan dana untuk biaya masuk perguruan tinggi swasta, sejumlah pelajar SMU yang mewakili Indonesia sedang berjuang dalam olimpiade internasional ilmu-ilmu eksakta, yang meliputi matematika, fisika, kimia, biologi dan komputer di berbagai negara.

Salah satunya, olimpiade kimia (IChO), telah diselenggarakan di Athena, Yunani dari tanggal 5 sampai 14 Juli 2003 yang baru saja lalu. Tim dari Indonesia yang diwakili oleh Ari Yustisia Akbar, Cipto Liusman, Damar Yoga Kusuma dan Teddy Salim berhasil memperoleh 1 medali perak dan 3 perunggu. Suatu prestasi yang sangat membanggakan, karena tim olimpiade kimia Indonesia ini berhasil mencatat prestasi yang lebih baik dari negara-negara yang notabene perkembangan ilmu kimianya lebih maju, seperti Jepang, Amerika, maupun Belanda.

Kalau kita simak, selama 7 tahun keikutsertaannya dalam ajang olimpiade kimia, tim Indonesia telah berhasil merebut 2 perak dan 5 perunggu. Prestasi tim Indonesia terus meningkat seiring dengan perbaikan matrikulasi yang diberikan kepada pelajar. Hal ini bukanlah suatu hal yang mudah; ini hasil jerih payah para pendidik maupun pelajar yang dipilih melalui suatu kompetisi yang ketat mulai dari tingkat sekolah, Suasana ujian praktektingkat propinsi sampai tingkat nasional.

Suasana ujian praktek

Ujian yang diberikan dalam olimpiade kimia meliputi ujian teori dan praktikum; bobot penilaian lebih berat kepada ujian praktikum. Sering kali tim Indonesia unggul di bidang ujian teori tetapi jatuh dalam ujian praktek. Setidaknya, hal ini yang penulis rasakan waktu ikut serta dalam kompetisi ini 5 tahun yang silam. Tahun ini, wakil dari Indonesia berhasil menyelesaikan soal-soal teori dengan nilai yang tinggi dan mampu memperoleh peningkatan nilai pada ujian praktikum, sehingga bisa bersaing dengan peserta dari negara-negara lain dalam perebutan medali.

Materi ujian praktikum tahun ini terdiri dari dua bagian. Kalau kita coba melihat materi ini, terutama bagian pertama tentang sintesis senyawa peptida, kita mungkin akan dikejutkan oleh sulitnya materi tersebut. Bukan hanya alat-alat praktikum yang dipakai cukup asing di telinga pelajar SMU bahkan mahasiswa tingkat awal, melainkan juga prosedur praktikum cukup rumit dan perlu ketrampilan yang tinggi dalam menggunakan alat-alat praktikum tersebut. Pelajar dituntut untuk mampu menggunakan alat-alat praktikum tersebut secara terampil dalam memecahkan masalah-masalah yang biasa kita hadapi dalam suatu penelitian.

Apakah kendala kurangnya sarana dan prasarana praktikum bisa dijadikan alasan kurang mampunya negara-negara berkembang untuk bersaing dengan negara-negara maju? Faktanya, negara yang kerap berprestasi tinggi adalah negara-negara yang relatif prasarananya kurang memadai seperti Cina, Vietnam, Iran maupun Thailand. Kesamaan dari negara-negara yang terletak di benua Asia tersebut adalah eratnya kerja sama yang digalang oleh institusi akademik dengan pelajar dan sekolah. Para pelajar yang berprestasi di bidang ilmu eksakta dididik secara kontinu, dan mereka dapat menggunakan fasilitas praktikum di institusi akademik.

Suasana ujian teori

Berkaca dari negara-negara tetangga seperti Jepang dan Singapura, para pelajar sejak dini telah dikenalkan ilmu Suasana ujian teorieksakta melalui bacaan-bacaan ilmiah, berita-berita iptek, maupun pembelajaran melalui internet. Di sekolah-sekolah, pelajar membentuk klub-klub ilmiah yang dibimbing oleh guru. Pemerintah dan kalangan institusi akademik menyelenggarakan kompetisi-kompetisi tingkat propinsi maupun nasional yang menumbuhkan minat pelajar untuk menekuni ilmu eksakta secara lebih mendalam. Sehingga tidak heran, para pelajar dari negara-negara tersebut juga mampu berprestasi dengan meraih nilai yang tinggi dalam ujian praktikum. Bahkan dengan pengenalan iptek sejak dini, negara seperti Polandia mampu mencetak pelajar yang memperoleh medali emas 3 kali dalam keikutsertaan di kompetisi ini, mulai dari kelas 1 SMU sampai kelas 3.

Melihat hasil yang diperoleh tim olimpiade kimia Indonesia, kita boleh berbangga bahwa sumber daya anak bangsa Indonesia tidak kalah maju dengan bangsa-bangsa lainnya. Kurangnya sarana pendukung maupun dana yang sering menjadi kendala dalam pengembangan daya pikir ilmiah pelajar dapat diimbangi dengan kreativitas pembimbing (guru) dalam memberikan materi pelajaran secara sederhana dan mudah dimengerti. Tentunya pemerintah maupun institusi akademik juga turut mengambil bagian aktif dalam pengembangan ilmu kimia dengan menyediakan prasarana maupun menyelenggarakan kompetisi-kompetisi.

Redaksi chem-is-try.org berharap wakil dari Indonesia bisa kembali berprestasi pada IChO tahun mendatang yang akan diselenggarakan di Jerman. Selamat atas prestasi yang diukir oleh Tim Olimpiade Kimia Indonesia di Yunani dan selamat berjuang untuk Tim Olimpiade Kimia Indonesia berikutnya!


Aksi

Information

One response

16 07 2010
Emon

Semoga OSIS 36 bisa menjadi pelajar yang memiliki banyak prestasi.

Saran & Kritik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: